Kadia, Wuawua, dan Puuwatu Langganan Terbesar DBD – Berita Kota Kendari
Headline

Kadia, Wuawua, dan Puuwatu Langganan Terbesar DBD

Nurlita. (Foto: Awal/BKK)

Nurlita. (Foto: Awal/BKK)

KENDARI, BKK – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Kendari mencatat tiga kecamatan paling rawan demam berdarah, Kadia, Wuawua, dan Puuwatu.

Secara keseluruhan, sebanyak 10 kecamatan di Kendari tidak ada yang aman dari demam berdarah dengue (DBD).

Setiap tahun ada saja yang terserang. Tahun lalu, dilaporkan sebanyak 78 orang terinfeksi DBD, kebanyakan menyerang anak-anak dan remaja, yaitu umur 1-4 tahun, 5-9 tahun, dan 15-18 tahun.

“Golongan usia tersebut menunjukan kebanyakan pasien yang terserang adalah anak-anak pada masa sekolah play group, sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), dan sekolah menengah atas (SAM),” kata Nurlita, Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan pada Dinkes Kota Kendari, saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (4/2).

Berdasarkan catatan tiga tahun Dinkes Kota Kendari, DBD mulai terdeteksi pada 2012.
Sebanyak 114 orang terdampak virus yang disebar nyamuk aedes aegypti ini.

Korban paling banyak terdapat di Kecamatan Kadia, disusul Wuawua, Kambu, dan Kendari Barat. Hanya Kecamatan Abeli yang aman.

Tahun berikutnya, DBD kembali menyerang 231 orang. Paling banyak di Kecamatan Wuawua, Puuwatu, dan Kadia. Kecamatan Abeli yang tahun sebelumnya aman, sebanyak 21 orang terinfeksi.

Pada 2014, terdampak DBD berkurang, hanya 30 orang, tapi wilayah serangannya tetap terbesar di Kecamatan Kambu, Wuawua, dan Kadia, serta Kendari Barat.

Tahun 2015 pun Kota Kendari tidak luput. Puuwatu 21 orang dirawat, Kadia 17 orang, Wuawua 12 orang, dan Kendari Barat delapan orang terinfeksi DBD.

Ia menambahkan, gejala yang sering ditemui pada pasien yang terserang virus ini demam tinggi, bintik-bintik merah pada kulit.

Ia merinci, indikator suatu tempat dikatakan endemis DBD adalah adanya kasus atau temuan warga yang terkena DBD berturut-turut selama tiga tahun terakhir.

“Kota Kendari bisa kita katakan rawan atau endemis DBD, karena hampir seluruh kecamatan ada kasus DBD-nya,” paparnya.

Berkait itu, pihaknya mengharapkan adanya partisipasi aktif masyarakat dan sekolah untuk mencegah penularan DBD.

Pencegahannya dapat dilakukan dengan meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), dengan melakukan gerakan pemberantasan sarang nyamuk DBD.

Cara ini, kata dia, biasa dikenal dengan “3M” yakni menguras, menutup bak mandi, mengubur barang-barang bekas, dan melakukan pengamatan tempa-tempat yang dapat menjadi perkembang biakan nyamuk serta menggunakan bubuk abate di tempat penampungan air. (p3/iis)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top