Kasuistika

Kasus Pengadaan Bibit Fiktif Dishut Konut Naik Meja Penyidikan

KENDARI, BKK- Penyidik Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Tenggara (Sultra) resmi menaikan status kasus dugaan pengadaan bibit fiktif di Dinas Kehutanan (Dishut) Konawe Utara (Konut), dari penyelidikan (lid) ke penyidikan (dik).
Kendati demikian, namun penyidik Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Sultra belum menetapkan tersangka. Pasalnya, pihak yang dinilai bertanggung jawab masih dalam pendalaman.
“Kasusnya sudah naik ke penyidikan, namun belum ada tersangka. Karena penyidik masih mendalami orang yang bertanggung jawab,” jelas Kepala Subbidang (Kasubbid) Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PID) Humas Polda Sultra Komisaris Polisi (Kompol) Dolfi Kumaseh, Senin (1/2).
Menurut Dolfi, penyidik menaikan kasus tersebut dari penyelidikan ke penyidikan karena telah mengantongi sedikitnya dua alat bukti sah untuk meningkatkan status kasus tersebut.
Itu dilakukan setelah penyidik meminta klarifikasi dari beberapa pihak yang terkait dalam proyek itu. Di antaranya pria berinisial Mu yang tidak lain Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Dinas Kehutanan (Dishut) Konut.
Untuk diketahui, proyek pengadaan bibit dan penanaman jati dengan total anggaran sebesar Rp 879 juta, serta pengadaan eboni dan bayam dengan anggaran Rp 294 juta.
Menurut Dolfi, kasus tersebut ditengarai telah memenuhi unsur melawan hukum. Alasannya, pertama, pengadaan bibit dan penanaman jati terjadi perbedaan besaran anggaran dalam kontrak dan daftar pagu anggaran (DPA).
Di mana, dalam kontrak tertera anggaran sebesar Rp 879 juta, sementara dalam DPA berjumlah Rp 1,176 miliar.
Sementara, pengadaan eboni dan bayam, harusnya yang diadakan masing-masing sebanyak 2.750 bibit. Namun, kenyataannya hanya diadakan bibit eboni sebanyak 2.750. Sedang bibit bayam tidak lagi diadakan, sehingga pekerjaannya diduga fiktif.
“Yang lebih parahnya lagi, pencairan dana 100 persen, kedua kegiatan tersebut tidak berdasarkan fisik pekerjaan 100 persen. Sehingg di dalamnya terjadi konspirasi,” pungkasnya.
Dua kasus tersebut terjadi pada 2015 dan dalam kasus-kasus tersebut penerima atau ketua kelompok penerima eboni dan bayam berstatus sebagai anak kandung Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Dishuta Konut berinisial Mu.
Penyidik Tipikor Ditereskrimsus Polda Sultra telah memeriksa dua wanita yang berperan selaku tim pemeriksa barang pengadaan barang dan jasa. Keduanya berisial Li dan Za. (r2/iis)

To Top