Kasuistika

Penydik Segera Tentukan Tersangka

#Kasus Dugaan Penipuan dan Penggelapan Janji Proyek di Koltim

KENDARI, BKK- Penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Tenggara (Sultra) segera menentukan tersangka dalam kasus dugaan penipuan dan penggelapan janji proyek di Kolaka Timur (Koltim) sebesar Rp 800 juta.

“Kasusnya masih penyelidikan, pekan depan penyidik akan melakukan gelar perkara untuk menetapkan tersangka,” terang Kepala Subbidang (Kasubbid) Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PID) Humas Polda Sultra Komisaris Polisi (Kompol) Dolfi Kumaseh, Kamis (28/1).

Ditambahkan, gelar perkara tersebut dilakukan setelah penyidik melakukan pemeriksaan tambahan terhadap Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Koltim Abdul Haris Baco SPd SSos MM.

Haris Baco dipanggil ulang menghadapa penyidik untuk dilakukan pemeriksaan tambahan dalam kasus dugaan penipuan dan penggelapan janji proyek di Koltim sebesar Rp 800 juta.

“Penyidik memanggil yang bersangkutan (Haris Baco) untuk diperiksa tambahan,” ujarnya.
Perwira polsi dengan satu melati di pundak ini menjelaskan, Haris Baco masih diperiksa sebagai saksi. Karena, kasus ini masih dalam tahap penyelidikan.

“Dan kemungkinan dalam waktu dekat ini sudah bisa dinaikan ke tahap penyidikan,” katanya.
Ditanya mengenai potensi Haris Baco untuk dijadikan tersangka, Dolfi belum bisa memastikannya.

Pasalnya, Haris masih harus menjalani pemeriksaan tambahan. Kemudian dilakukan gelar perkara untuk menentukan tersangka.

Sementara itu, terlapor lain, yakni Rizal Hasan alias Ical hingga kini belum diketahui keberadannya. Pria yang juga keponakan dari Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI asal Sultra berinisial AU ini, sudah dilayangkan panggilan dua kali namun belum menghadiri panggilan.

Untuk diketahui, sebelumnya kasus dugaan penipuan dan penggelapan, dengan modus janji proyek di Kabupaten Kolaka Timur (Koltim) yang terjadi 2014 lalu ini, Rizal dituding menerima uang Rp 50 juta dari total kerugian yang dilaporkan senilai Rp 800 juta.

Selain Rizal, siasanya uang itu mengalir ke Kepala Dinas Pekerjaan Umum Koltim Haris Baco sebesar Rp 500 juta, dan Risal Hasan sebesar Rp 250 juta.

Dari pengakuan pelapor, saat penyerahan uang memang Rizal tidak mau menandatangani kuitansi, sehingga pelapor melakukan perekaman pembicaraan dirinya dan Rizal menggunakan hanphone (hp).

Namun, bukti rekaman itu masih harus diteliti kebenarannya, dengan cara meminta ahli telematika untuk mengetahui apakah suara tersebut asli suara Rizal atau bukan.

Risal Hasal yang merupakan keponakan dari oknum anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesi (DPR-RI) asal Sultra berinisial UA.

Dari hasil keterangan yang didapat dari Haris, uang yang didapat Risal Hasal itu digunakan untuk membiayai kampanye keluarganya yang kala itu mencalonkan diri sebagai anggota DPR-RI daerah pemiliha Sultra.

Sabri melaporkan Risal Hasan bersama kawan-kawan, yang didalamnya turut menyeret mantan mantan Pj Koltim Tony Herbiansyah. Hingga akhirnya Tony pernah diperiksa di Polda Sultra dalam statusnya sebagi saksi. Kendati demikian, UA dan Tony turut terseret dalam kasus ini, namun sejauh ini penyidik belum menemukan bukti keterlibatan keduanya.

Penyidik juga telah memeriksa oknum anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Kendari berinisial Ri sebagai saksi, karena namanya turut disebut menerima uang sebesar Rp 50 juta. Namun, hal itu dibantah langsung oleh Ri. Dalam pemeriksaan yang dijalani, Senin (28/9), Ri dicecar sebanyak 23 pertanyaan. (r2/iis)

To Top