Headline

Dimarahi Mantan Napi, Petinggi Kejari Intimidasi Jurnalis

# PWI Mengecam, Jaksa Tak Paham Tugas Jurnalis

KENDARI, BKK – Intimidasi terhadap jurnalis kembali terjadi di Kota Kendari. Salah satu pewarta dari koran lokal Sulawesi Tenggara (Sultra) Suiyatri Arief “disekap” dalam sebuah ruangan di Kejaksaan Negeri (Kejari) Kendari, Rabu (27/1).

Dari pengakuan Suiyatri, petinggi Kejari Kendari terlihat marah setelah sebelumnya didatangi oleh warga yang memprotes sikap ambigu jaksa dalam menangani kasus korupsi.

Warga yang datang ini adalah mantan narapidana (napi) yang pernah dijebloskan Kejari Kendari ke dalam rumah tahanan (rutan) atas kasus korupsi di Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Provinsi Sultra.

Mantan napi ini, memprotes sikap Kejari Kendari yang tidak menahan tiga tersangka dugaan korupsi di LPMP Sultra. Padahal, dia (mantan napi, red), setelah ditetapkan tersangka kala itu, ia langsung ditahan.

“Mantan napi itu dia datang marah di Kejari Kendari, karena setelah membaca koran bahwa tiga tersangka tidak ditahan. Padahal, ia pada saat itu langsung ditahan. Intinya, dia diperlakukan tidak adil. Padahal, dalam kasus korupsi yang sama,” beber Suyiatri Arief kepada Berita Kota Kendari, Rabu (27/1).

Menurut mantan napi tersebut, papar Yatri, dia pernah terlibat dalam kasus yang sama dan dipenjara selama empat tahun. Anehnya, Kejari memperlakukan berbeda dengan tiga tersangka dugaan korupsi LPMP Sultra.

Padahal, kasusnya sama dan yang membedakan adalah jumlah korupsi.

“Katanya pihak Kejari, mantan napi itu korupsinya Rp 1 miliar lebih. Sedangkan yang tiga tersangka ini hanya Rp 400 juta. Tiga tersangka ini juga telah kooperatif mengembalikan uang,” paparnya.

Setelah dimarahi habis oleh mantan napi, petinggi Kejari meluapkan amarahnya dengan mencari wartawan. Kebetulan, di Kejari muncul Suiyatri yang ingin melakukan liputan. Ia langsung dicegat dan “disekap” dalam salah satu ruang lembaga penegak hukum itu selama hampir satu jam.

“Saya langsung diintimidasi dalam salah satu ruangan dan mereka menguncinya,” bebernya.

Menurut Suiyatri, para jaksa dengan wajah merah memarahi dirinya dan menanyakan siapa yang telah mempublis berita tentang tiga tersangka dugaan korupsi di LPMP Sultra.

“Mereka tanya wartawan mana yang tulis itu. Mereka juga membantah tidak pernah memberikan komentar soal itu,” kata Suiyatri.

Atas intimidasi tersebut, Suiyatri keberatan dan tidak menerima tindakan para jaksa tersebut.

“Saya tidak terima dibegitukan,” tuturnya.

Dalam kasus dugaan korupsi di LPMP Sultra, Kejari Kendari sudah menetapkan tiga tersangka. Anehnya, jaksa hanya memberikan inisial nama tiga tersangka. Bahkan, hingga saat ini tiga tersangka itu belum kunjung ditahan oleh Kejari.

Ketua PWI Cabang Sultra, Sarjono, ikut menyesalkan tindakan tersebut. Menurutnya kerja jaksa dan wartawan sama-sama bertanggungjawab kepada publik. Jaksa sebagai aparat penegak hukum memiliki koridor sendiri dalam melaksanakan tugasnya untuk menegakan hukum, sementara wartawan juga memiliki pedoman dalam melaksanakan tugasnya.

Sementara Kejari Kendari, Yohanes Gatot Irianto yang dihubungi melalui sambungan telepon tidak berhasil. Demikian juga Humas Kejati Sultra, Janes, saat dihubungi juga tidak berhasil. (r1/lex)

To Top