Dua Keluarga di Kendari Gabung Gafatar – Berita Kota Kendari
Headline

Dua Keluarga di Kendari Gabung Gafatar

# Sejak Juli 2015 Tinggalkan Kendari Menuju Kalimantan
# Kirim SMS Putuskan Hubungan Keluarganya di Kendari

KENDARI, BKK – Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Kendari mendeteksi ada dua keluarga di Kota Kendari bergabung dengan organisasi masyarakat (ormas) terlarang Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar).

Kepala Badan Kesbangpol Kota Kendari Ridwansyah Taridala mengaku, dua kepala keluarga bersama istri dan anaknya bergabung dengan Gafatar dan sekarang berada di Kalimantan.

Informasi ini, sebut Ridwansyah, diperoleh dari salah satu pegawai negeri sipil (PNS) di lingkup Pemerintah Kota Kendari yang kebetulan dua kepala keluarga bergabung gafatar masih ada hubungan darah.

“Saya dapat sms (short massage senter) dari keluarga mereka (warga Kendari bergabung Gafatar) bahwa sudah ada di Kalimantan,” terang Ridwansyah, Rabu (13/1) di ruang kerjanya.

Ia menyebutkan, satu keluarga bersama istri dan tiga anaknya ikut bergabung ke Gafatar meninggalkan Kendari dan sudah di Kalimantan. Sementara satu keluarga lainnya terdiri dari suami, istri dan dua anaknya juga ikut menuju Kalimantan.

Meski begitu, Ridwansyah masih menolak untuk menyebutkan secara detil nama warga yang bergabung Gafatar.

“Warga ini sebelumnya berada di lorong Satria,” jelasnya.

Dikatakannya, kedua keluarga ini meninggalkan Kendari sekitar lima sampai enam bulan yang lalu. Terakhir, beber dia, salah satu keluarga yang bergabung menelpon familinya yang ada di Kendari 28 Desember 2015 lalu.

Selain menelpon, keluarga juga mentrasferkan uang pada 7 Januari 2015 kepada keluarga yang bergabung Gafatar. Namun, bukannya berterima kasih. Keluarga yang bergabung ke Gafatar itu mengirim pesan singkat bahwa bukan keluarga lagi.

“Katanya dari sms itu, jangan cari. Kalau pun mereka pulang di Kendari, tidak ada hubungan keluarga lagi. Itu pesannya,” beber Ridwansyah sembari membacakan sms.

Ridwansyah mengakui, Ormas Gafatar pernah terdaftar di Kesbangpol Kota Kendari pada 2013 lalu. Namun, karena dianggap menganut ajaran menyimpang dari syariat Islam, maka Kesbangpol Kota Kendari membekukannya.

“SKT-nya kita sudah setop. Setelah kita bubarkan di Anggoeya dan dipastikan tidak ada lagi di Kota Kendari,” jelasnya.

Berdasarkan data yang dipegangnya, pengurus Gafatar di Kota Kendari kala itu cukup banyak. Namun, ada beberapa warga yang keluar karena tahu bahwa organisasi ini menyimpang.

“Ada yang sudah masuk, ternyata pada saat bergabung sudah mengetahui organisasi ini dan memilih keluar,” bebernya.

Ia juga mengaku, pernah latihan bersama dalam olahraga bela diri dengan beberapa pengurus Gafatar yang dari Jakarta. Jumlah mereka, sebut dia, sekitar 37 orang. Saat dimintai identitasnya, mereka ternyata pengurus Gafatar.

“Mereka sempat latihan dengan saya satu semester. Namun karena mereka tahu saya, akhirnya mereka tidak ada lagi. Tapi masih ada yang sempat minta pamit,” tuturnya.

Kehadiran Gafatar di Kota Kendari turut membuat warga was-was. Heri mengaku, organisasi yang menyimpang seperti ini harusnya ditertibkan. Sebab, kata dia, jangan sampai mempengaruhi masyarakat luas.

“Pemerintah harus tegas terhadap organisasi seperti ini. Jangan sampai membawa misi yang tidak benar,” harapnya. (r1/lex)

To Top