2015, Kasus Korupsi Tertinggi di Muna – Berita Kota Kendari
Headline

2015, Kasus Korupsi Tertinggi di Muna

ilustrasi_korupsi

KENDARI, BKK – Sepanjang Tahun 2015, Muna dinyatakan sebagai juara 1 dalam mengoleksi kasus korupsi.
Pusat Pemantauan dan Advokasi Hak Asasi Manusia (Puspaham) Sulawesi Tenggara (Sultra) telah melakukan trancking terhadap kasus korupsi di Sultra sepanjang Tahun 2015. Daerah yang paling sering terjadi praktik korupsi sepanjang tahun 2015 adalah Muna dengan 8 kasus dan Konawe Selatan (Konsel) sebanyak 7 kasus.
Adapun daerah terminim adalah Kolaka Timur, Wakatobi, dan Buton. Sedangkan Buton Selatan, Buton Tengah dan Muna Barat, ketiganya merupakan DOB yang baru beberapa bulan berdiri sehingga sangat wajar jika informasi atau perbuatan korupsi masih belum ditemukan oleh aparat penegak hukum.
“Akan tetapi, informasi tersebut tidak semata-mata membuat suatu daerah bebas dari korupsi atau berkategori sehat karena memiliki kasus paling sedikit. Sebab, informasi tersebut hanya berdasarkan kasus yang sudah disidik, memiliki tersangka dan kerugian negara,” beber Divisi Sipil dan Politik Puspaham Sultra Ahmad Iskandar.
Secara umum, lanjut dia, dalam kurun tahun 2015 belum ada kabar gembira terkait upaya pembenahan dan pencegahan korupsi di di Sultra. Karena, disaat yang sama, seluruh daerah telah mempunyai program dan kegiatan pencegahan prilaku korupsi di masing masing institusinya.
“Faktor terbesarnya, ada di komitmen pencegahan dan tindak lanjut aksi yang kami rasa belum berjalan dengan efektif. Padahal, upaya pencegahan korupsi yang belum maksimal tersebut telah ditopang oleh aspek regulatif dan anggaran kegiatan yang cukup memadai. Sehingga bisa disimpulkan bahwa rata-rata daerah di Sutra masih tergolong korup atau tidak bersih,” jelasnya.
Pusat Pemantauan dan Advokasi Hak Asasi Manusia (Puspaham) Sulawesi Tenggara (Sultra) menyimpulkan, pemberantasan korupsi di Sultra sepanjang Tahun 2015 dianggap masih lemah.
Tim tracking Puspaham Sultra Ahmad Iskandar menyebutkan, dalam kurun tahun 2015, penanganan kasus korupsi di Sultra boleh dikatakan tidak begitu mengembirakan. Aparat penegak hukum, belum menunjukan performa yang kuat dalam memerangi prilaku koruptif yang terjadi di Bumi Anoa.
“Untuk Polda Sultra sendiri, sikap anti-korupsi terbilang cukup lemah. Malah menurut hemat kami, Polda terkesan memperlemah gerakan anti-korupsinya. Polda Sultra sepanjang tahun 2015 sesungguhnya tidak mengalami peningkatan prestasi yang berarti dan bahkan lebih buruk secara kualitas penanganan perkara korupsi,” terang Ahmad Iskandar melalui siaran persnya, Selasa (5/1).
Menurut dia, bukti lemahnya Polda dalam memenjarakan pelaku korup adalah kasus bantuan sosial rumah ibadah di Konawe Selatan (Konsel) yang menjerat Walam sebagai tersangkanya. Namun, Polda malah mengeluarkan surat perintah penghentian penyidikan (SP3) dengan alasan tersangka telah mengembalikan kerugian negara.
“Padahal, pengembalian kerugian negara tidak menghilangkan tindak pidana korupsi tersangka. Lagi pula, penyelidikan yang dilakukan Polda Sultra terhadap kasus tersebut tentu saja telah menghabiskan energi termasuk uang negara. Penanganan yang tidak berorientasi pada penindakan seperti itu, dapat pula dikatakan sebagai upaya pelemahan sikap anti-korupsi sekaligus sebagai bentuk pembiaran terhadap praktik korup penyelenggara negara,” jelasnya.
Sementara di Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sultra, perkara korupsi yang ditangani sepanjang tahun 2015 juga tidak mengalami tren yang cukup positif. Kejati Sultra memang lebih unggul ketimbang Polda Sultra. Misalnya, tidak ada stagnansi dalam memberantas pelaku koruptor.
Dalam hal ini, Kejati Sultra cukup militan dalam mengejar pelaku koruptor dengan memperluas wilayah pelaku atau tersangka.
“Selain itu, dalam beberapa kasus kami tidak menjumpai terbitnya SP3 pekara korupsi dengan alasan telah mengembalikan kerugian negara. Akan tetapi, disaat yang sama, masih terdapat puluhan kasus yang terbilang “mandeg” baik di tahap penyelidikan, penyidikan hingga ke penuntutan. Sehingga, menurut hemat kami, secara akumulatif, kami tidak melihat langkah progresif yang cukup besar baik itu yang berada di institusi Polda Sultra maupun Kejaksaan Tinggi Sultra,” bebernya.
Terhadap pelaku korup, Puspaham juga melihat tren korupsi di Sultra sepanjang tahun 2015 menunjukan cara mencuri uang negara kian canggih dan meluas. Tim monitoring Puspaham Sultra menemukan, adanya perluasan aktor dan modus korupsi.
“Korupsi di Sultra tidak hanya dilakukan oleh penyelenggara negara dan pihak korporasi atau swasta, melainkan telah menggerus ke wilayah keluarga dan rumah tangga, anak dan istri hingga sanak family terdekat,” jelasnya.
Selain itu, ditemukan pula adanya pelaku korupsi yang memiliki status dan profesi ganda. Yakni, selaku politikus (pengurus partai politik lokal), namun merangkap sebagai kontraktor dan pimpinan suatu perusahaan yang terlibat korupsi.
“Hal ini menunjukan bahwa pembenahan integritas kader di tingkatan partai politik memang belum terjadi. Disaat yang sama, kami juga mendapatkan dalam satu kasus korupsi terdapat lebih dari satu jenis aktor (berlainan profesi dan institusi), juga besaran aktor korupsi paling banyak 6 (enam) orang dengan profesi yang beragam. Hal tersebut menegaskan bahwa praktik korupsi di Sultra memang masih marak dilakukan dengan cara berjamaah dan terorganisir atau berkelompok,” sebutnya.
Tracking tren korupsi di Sultra yang dihimpun Puspaham Sultra berbasis pada informasi di tahap penentuan tersangka, penangkapan, pengembangan kasus, penuntutan maupun sampai pada tahap vonis. Melalui tiga lembaga hukum kepolisian, kejaksaan dan peradilan.
“Data ini disajikan dalam bentuk uraian singkat dan tabulasi yang terdiri dari enam variabel besar yakni variabel sektor, aktor, modus, institusi, kerugian dan daerah kejadian. Tracking atau penelusuran yang dilakukan dalam rangka melihat sampai sejauh mana prilaku korupsi terjadi di Sultra,” bebernya. (r1)
Korupsi Berdasarkan Daerah Kejadian
Kabupaten        Jumlah Kasus
Muna             8
Konsel         7
Bombana         6
Konut             5
Kolut             5
Kota Kendari         4
Konawe         4
Kolaka         4
Baubau         2
Butur             2
Koltim         1
Wakatobi         1
Buton             1

Click to comment
To Top