Lider Minta Kejaksaan Tidak Mendiamkan Kasus Robohnya Pagar Rumah Adat – Berita Kota Kendari
Lingkar Sultra

Lider Minta Kejaksaan Tidak Mendiamkan Kasus Robohnya Pagar Rumah Adat

KOLAKA, BKK- Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Lingkar Demokrasi (Lider) Sulawesi Tenggara (Sultra) meminta kejaksaan untuk tidak mendiamkan kasus robohnya pagar Rumah Adat Mekongga. Daerah sangat dirugikan akibat kondisi ini.

“Ini sama saja tidak pernah dilakukan pekerjaan. Daerah yang dirugikan karena belum lama dibangun pagar rumah adat sudah roboh. Kami minta kejaksaan tidak mendiamkan kasus ini,’ gugah Ketua Lider Sultra Herman Syahruddin, Selasa (28/4).

Menurut Herman, rubuhnya pagar rumah adat sekali-kali bukan diakibatkan karena bencana, tapi karena dikerjakan tidak sesuai speknya. Berdasarkan investigasi yang dilakukannya, ternyata talutnya dibangun oleh dinas pekerjaan umum (PU), kemudian pagarnya oleh dinas pariwisata dan kebudayaan. Artinya, proyek tersebut bukan proyek lanjutan, sehingga seharusnya ketika akan membangun pagar, kontraktor terlebih dahulu membangun fondasinya.

“Ini, dia tidak buat fondasinya, tapi langsung meletakkan batu bata di atasnya, sehingga tidak kuat. Saya yakin ini tidak sesuai dengan spesifikasinya, tapi dalam membangun pagar ini kontraktor berpikir bagaimana bisa meraup untung,” tuding Herman.

Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Kolaka Jefferdian ketika dikonfirmasi soal ini menjelaskan, pihaknya sedang dalam tahap pengumpulan data. Jaksa masih melakukan diskusi dengan ahli konstruksi yang berkaitan dengan bangunan, khususnya pembangunan pagar Rumah Adat Mekongga yang roboh.

“Hasilnya saya belum bisa menjawab. Itu kewenangan yang diberikan kepada intel,” ujarnya.

Sebelumnya, anggota DPRD Kolaka dari Komisi III menemukan adanya proyek pembuatan pagar keliling rumah adat yang dikerjakan asal jadi. Menurut Muh Ajib Madjid dan Hasbi Mustafa yang menemukan kasus ini mensinyalir material yang digunakan tidak sesuai dengan spesifikasinya.

“Lihat saja besinya, kayanya tidak sesuai spesifikasinya. Sepertinya perencanaanya tidak matang, sehingga tidak ada penahannya. Makanya cepat roboh,” kata Ajib Madjid.

Rekannya, Hasbi Mustafa menyayangkan, pekerjaan pagar rumah adat yang dikerjakan asal-asalan, sehingga belum genap satu tahun pekerjaan sudah roboh.

“Ini pasti ada dugaan korupsinya. Kan, kita sayangkan belum genap setahun tapi sudah rata dengan tanah. Penegak hukum sudah harus memproses pekerjaan ini,” sarannya.

To Top