Beranda

Radikalisme Harus Ditangkal

Drs Asrul Aziz MAP

Drs Asrul Aziz MAP

KENDARI, BKK – Masalah radikalisme di lingkungan masyarakat sudah menjadi momok yang perlu ditangkal dan dihadapi secara bersama-sama. Tantangan ini menjadi tanggung jawab bersama baik pemerintah maupun masyarakat.

Hal ini terungkap dalam focus group discussion (FGD) bertema “Penguatan Nilai-Nilai Ke-Islam-an dalam Upaya Menangkal Radikalisme Atas Nama Agama Islam” yang dilaksanakan Perkumpulan Masyarakat Madani (Permadani) Sulawesi Tenggara (Sultra) bekerja sama dengan Lumbung Informasi Rakyat (LIRa) Kolaka, di Hotel Zam-Zam Kolaka, Kamis (26/2).
Kepala Bidang Humas Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Kolaka, Agus Ramadhan mengatakan, ada tiga faktor utama yang membuat gerakan radikalisme Islam, yakni, politik, ekonomi, dan sosial budaya. Radikal juga sering diartikan sebagai keberpihakan, kecondongan, mendukung pada suatu pemikiran saja, suatu kelompok, atau suatu ajaran agama secara penuh dan bersungghuh-sungguh serta terfokus pada suatu tujuan yang bersifat aktif dan reaktif.

“Dalam Islam juga sudah mengenal yang namanya radikal tetapi menjurus pada kebaikan dimana ketika berhubungan dengan hak kita dirampas. Namun radikal itu tidak selamanya menjurus ke agama Islam, tetapi semua aliran itu bersifat radikal,” terangnya.

Islam, kata dia, berkembang bukan dengan kekerasan atau radikal tetap dengan kasih sayang dan itu terbukti dalam perkembangan Islam. Namun dalam Islam sangat menolak namanya radikalisme yang berlebihan dan bertolak belakang dengan inti dari ajaran agama Islam.

“Pengertian dari radikal adalah keras mempertahankan sesuatu atau berjuang untuk sesuatu tanpa mengetahui apa yang dipejuangkan. Dalam Islam itu untuk mencegah radikalisme adalah dengan menjaga telinga, hati, dan nafsu,” bebernya.

Sementara itu, Kepala Unit Intelkam Kepolisian Resort (Polres) Kolaka, Ajun Inspektur Satu (Aiptu) Asis Lama, mengaku, radikalisme adalah paham yang menginginkan perubahan atau pembaharuan secara sesegera mungkin, kekerasan atau drastis. Ciri-ciri radikalisme, ekstrim, fanatik, reproduksi, fundamental.

“Radikalisme itu tidak selamanya menjurus pada terorisme ada juga ketika untuk menginginkan perbuahan terhadap politik di Indonesia. Namun terkadang pandangan radikalisme terkadang di tujukan pada agama islam. Contohnya pembunuhan terhadap Mahatma Gandhi,” bebernya.
Ia menyebutkan, Kolaka sempat menjadi tempat pelatihan paham radikal yang dikirim ke Poso dan Ambon.

Di tempat yang sama, akademisi DR Abdul Sabaruddin SSos MSi mengaku, yang diutamakan dalam menakar paham radikalisme ini adalah dengan peran lembaga pendidikan.

“Generasi muda khususnya mahasiswa menjadi sasaran dalam mengembangkan paham radikalisme yang berujung pada gerakan radikal berlebihan karena mahasiswa itu sendiri sedang mencari jati diri. Dalam konsep pendidikan itu baik SD, SMP, SMA dan perguruan tinggi. Nilai-nilai pancasila harus menjadi pengikat antar sesama

Strategi perguruan tinggi mencegah paham radikalisme kiri sebut dia, dengan memperbaiki kurikulum pendidikan agama, memberikan pemahaman kepada mahasiswa khususnya mahasiswa tentang paham kebangsaan sebab kecenderungan mahasiswa untuk mencoba hal-hal baru.

“Radikalisme itu terkait dengan model dan cara pandang tentang mengungkapakan keberagaman. Cara mengungkapkan itu harusnya dikelola secara baik agar tidak melahirkan paham radikalisme yang berlebihan,” pesannya. (cr1/c/jie)

To Top