Tabrak AD ART, Nur Alam Masih Dijagokan – Berita Kota Kendari
Headline

Tabrak AD ART, Nur Alam Masih Dijagokan

*Gonjang-ganjing Mencari Pengganti Nur Alam di DPW PAN

KENDARI, BKK – Meski sudah menabrak anggaran dasar (AD) dan anggaran rumah tangga (ART) PAN, Nur Alam masih dijagokan untuk memimpin Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Amanat Nasional (PAN) Sulawesi Tenggara (Sultra).

“Meski sudah melampaui AD ART (PAN), beliau masih tetap kita inginkan menjadi Ketua DPW PAN Sultra,” terang Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PAN Kabupaten Buton Umar Samiun di Hotel Clarion, Rabu (18/2).

Bupati Buton ini menambahkan, dalam AD ART PAN, ketua minimal hanya menjabat dua periode. Hingga saat ini, Nur Alam sudah menakhodai partai berlambang matahari biru di Sultra hingga tiga periode.

“Beliau sudah tiga periode. Cuman, kita para kader tetap meminta Nur Alam kembali menjadi Ketua DPW PAN,” tuturnya.

Menurut Umar, belum ada kader yang potensial untuk menggantikan Nur Alam di kursi DPW PAN. Umar lebih mengidolakan sang Gubernur Sultra itu untuk kembali memimpin PAN hingga lima tahun mendatang.

“Semua kader tetap mengingkan pak gubernur. Tidak ada kader yang maju. Sebab, tidak ada yang bisa sama seperti Nur Alam,” katanya.

Sementara itu, Wakil Ketua DPW PAN Sultra Sabaruddin Labamba beranggapan yang sama. Menurutnya, 100 persen kader di Sultra masih menginginkan Nur Alam memimpin PAN Sultra.

“Prestasi pak Nur Alam luar biasa. Dari satu kursi di pemilu pertama, sekarang kita hampir menguasai kursi di seluruh kabupaten atau kota,” puji Sabaruddin.

Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Sultra ini menambahkan, progres kepemimpinan Nur Alam sudah dapat dilihat saat ini. Kurang lebih 15 tahun memimpin PAN, beberapa kadernya menorehkan prestasi dengan menguasai kepala daerah dan dewan.

“Secara nasional, Sultra merupakan provinsi tertinggi dalam perolehan kursi. Kalau saya bisa katakan, beliau 1000 persen sukses,” katanya.

Minimnya proses kaderisasi di PAN sehinga tidak adanya kader yang siap menggantikan Nur Alam, dibantah oleh Sabaruddin. Menurutnya, kapan waktu bagi kader menggantikan Nur Alam bukan hal yang perlu ditanyakan.

“Yang paling utama adalah selama ini kader sudah bekerja maksimal membesarkan partai meskipun tidak menjadi ketua DPW,” alasnya.

Menanggapi aspirasi itu, Nur Alam tidak ingin menjawabnya secara detail. Ia hanya meminta kepada awak media agar pandangan itu ditanyakan kepada Bupati Buton Umar Samiun.

“Kalau DPW PAN Sultra nanti, tanyaj kepada Ketua DPD PAN Buton. Itu ada dia,” singkat Nur Alam sembari menunjuk Umar yang berada di sampingnya.

Dia mengaku, aspirasi yang disuarakan kader ini akan diidentifikasinya terlebih dulu.

“Saya belum identifikasi. Nanti saatnya kita lihat,” tutupnya.

Di tempat terpisah, Dosen Ilmu Politik Universitas Halu Oleo (UHO) Eka Suaib menilai, partai besutan Hatta Rajasa di Sultra, stagnan atau jalan di tempat dalam melakukan proses kaderisasi, jika tidak adanya figur yang siap menggantikan Nur Alam di kursi DPW PAN,

“Kaderisasi stagnan. Karena, semua kadernya tergantung pada satu orang. Ini tidak baik bagi partai,” urai Eka Suaib.

Harusnya, saran dia, Nur Alam mengambil inisiatif untuk menentukan kadernya yang siap menggantikannya. Sebab, alas dia, fungsi partai adalah untuk melakukan kaderisasi terhadap seluruh pengurus yang akan dijadikan pemimpin.

“Memang, hampir belum ada yang bisa menggantikan Nur Alam di PAN. Tapi, ini menjadi kerugian bagi PAN dalam skala jangka panjang. Kalau jangka pendek, memang Nur Alam masih sebagai penguasa, tapi selepas itu bagaimana mempersiapkan kader selanjutnya,” tuturnya.

Menurut dia, partai tidak bisa hanya menggantungkan kepada satu orang dalam keberlangsungan eksistensi partai. Sebab, masa Nur Alam menjadi penguasa di Sultra tinggal tiga tahun lagi.

“Kalau Nur Alam turun, bisa saja partai melorot. Memang, untuk saat ini PAN masih identik dengan Nur Alam. Dan fenomena politik seperti ini, terjadi dalam dunia politik di Indonesia saat ini,” bebernya.

Eka Suaib menambahkan, beberapa bupati atau wali kota yang sedang berkuasa di Sultra dinilai merasa canggung atau tidak ingin melampaui keputusan Nur Alam. Mereka (kader), hanya menunggu keputusan resmi dari gubernur.

“Memang, semua bupati atau wali kota ini besar dari tangan Nur Alam. Tapi, harusnya Nur Alam mempersiapkan kadernya untuk melanjutkan tongkat estafet partai selanjutnya. Kalau tidak demikian, partai akan rugi secara jangka panjang,” pesannya. (cr1/c/lex)

To Top