Headline

Dibakar Cemburu, Oknum Guru Parangi Mahasiswa Hingga Tewas

Darah yang terlihat berhamburan didalam kamar korban.(foto:kasman/bkk)

Darah yang terlihat berhamburan didalam kamar korban.(foto:kasman/bkk)

KENDARI, BKK – Oknum guru pada salah satu Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) di Kabupaten Konawe Selatan (Konsel), Akbar Asri (40) tega memarangi salah seorang mahasiswa bernama Indra Lesmana (20) hingga tewas, lantaran terlibat cinta segi tiga.

Usai menganiaya korban, pelaku langsung menyerahkan diri ke Kepolisian Sektor (Polsek) Poasia. Keduanya berduel lantaran terbakar api cemburu terhadap perempuan yang sama-sama mereka cintai, yakni Milnawati (19) yang juga berstatus sebagai mahasiswa pada salah satu perguruan tinggi terbesar di Kota Kendari.

Insiden berdarah ini terjadi di Asrama Lizpa Dewi Lorong Tridharma Jalan HEA Mokodompit Kelurahan Lalolara Kecamatan Kambu Kota Kendari, Selasa (17/2) dini hari sekitar pukul 01.00 Wita. Dari pantauan jurnalis koran ini di tempat kejadian perkara (TKP), jika melihat darah yang berhamburan, diduga peristiwa pemerangan itu terlebih dahulu terjadi pada kamar dua lantai satu yang merupakan kamar milik Milnawati.

Namun dalam kamar itu, darah terlihat hanya beberapa tetes saja. Kemudian pemarangan terjadi depan kamar serta berlanjut pada kamar tiga yang tidak lain merupakan kamar Indra. Pada kamar korban itu darah terlihat membanjiri sebagian besar ruangan.

Dalam kamar milik korban yang berantakan itu terdapat puluhan botol minuman keras berbagai merek diantaranya Wisky dan Bir Bintang. Dan, dalam kamar itu juga polisi yang datang melakukan olah TKP menemukan sarung parang yang dibungkus dengan koran.

Pada kaca jendela korban juga terlihat pecah. Pada akhirnya terungkap selain kamar Milnawati dan kamar Indra berdampingan yang hanya dipisahkan tembok, ternyata keduanya juga menjalin asmara.

Dan, selain menjalin percintaan dengan korban Milnawati juga menjalin asmara dengan tersangka Akbar yang telah berstatus sebagai pegawai negeri sipil (PNS). Dikonfirmasi mengenai hal ini, Kepala Satuan Reserse Kriminal (Kasatreskrim) Kepolisian Resor (Polres) Kendari, Ajun Komisaris Polisi (AKP) Robby Topan Manusiwa SIK, membenarkan kejadian peristiwa tersebut.

Menurut keterangan saksi Milnawati, sambungnya, kedua lelaki tersebut sama-sama menjalin hubungan khusus (pacaran) dengan saksi. Kala itu, tersangka dan Milnawati sedang berduaan dalam kamar, karena korban diduga cemburu melihat pacarnya memadu kasih dengan tersangka dalam kamar berukuran 3×4 meter. Sehingga korban langsung mendatangi kamar Misrawati.

“Disitulah mereka (tersangka dan korban) terlibat perkelahian, hingga korban meninggal dunia karena terkena beberapa sabetan parang pada bagian kepala dan bagian tubuh lainnya,” ujar Robby. Korban, bebernya, sempat dilarikan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Abunawas Kendari oleh saksi Milnawati yang dibantu beberapa penghuni asrama.

Namun, sayang nyawanya tidak tertolong lagi. Pengganti Agung Basuki ini menambahkan, selain telah mengamankan tersangka, sebilah parang juga turut diamankan sebagai barang bukti. Dan juga wanita yang menjadi perebutan keduanya telah berada di Mapolres untuk dimintai keterangan sebagai saksi.

Lebih lanjut Robby mengatakan, tersangka Akbar dijerat dengan pasal 338 subsider pasal 351 ayat (3) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tentang penganiayaan berat hingga hilangnya nyawa seseorang, dengan ancaman pidana minimal 12 tahun penjara. Kepada jurnalis koran ini, Akbar menuturkan, kejadian itu berawal ketika dirinya bersama Milnawati sedang berduaan dalam kamar.

Sekitar pukul 01.00 Wita, tiba-tiba korban langsung mengetok pintu kamar dan masuk dalam kamar serta mengeluarkan kata-kata yang membuatnya tersinggung. Namun, kala itu lanjutnya, tidak menghiraukan kata-kata korban bahkan dirinya sempat meminta korban untuk tenang agar masalah tersebut diselesaikan keesokan harinya. Tetapi ajakan berdamai itu, terang Akbar, tidak dihiraukan bahkan korban terus mengeluarkan kata-kata yang tidak bisa diterimanya.

“Saya sempat kasi tau, kalau bisa masalahnya nanti diselesaikan besok (kemarin, red), tetapi dia (korban) tanya-tanya terus saya. Kerja dimanakah, saya jawab guru. Oooh guru kah, kalau saya kasih taukan bapaku, kamu bisa dipecat, karena bapaku pejabat,” terang Akbar menirukan percakapannya dengan korban saat ditemui di Mapolres Kendari, kemarin.

Mendengar bahasa bernada ancaman tersebut, tersangka tidak mampu menahan amarahnya. Sehingga, tempo itu pula tersangka mengeluarkan parang yang ada dalam tasnya dan mengayunkannya ketubuh korban. Keduanya pun sempat berduel, kemudian korban memilih melarikan diri ke kamarnya. Namun, tersangka tetap mengikuti korban dan terus memarangi korban hingga tergeletak didalam kamar.

Bahkan sebelum tergeletak didalam kamar tersangka juga beberapa kali melakukan pemarangan didepan kamar. Setelah melihatnya tergelatak tersangka meninggalkan korban untuk menyerahkan diri ke Polsek Poasia. Saat ditinggalkan, menurut Akbar, korban masih dalam kondisi bernyawa.

“Saya tidak tau berapa kali saya ayunkan parang, satelah itu saya tinggalkan dalam kamarnya, saya lihat masih bernyawa. Malam itu juga saya serahkan diri di Polsek,” akuh lelaki beranak empat ini. Masih kata Akbar, Milnawati baginya bukan orang baru lagi selain menjadi tetangga kampung di Kecamatan Moramo. Milnawati juga sebagai mantan siswanya yang kini dijadikan pacarnya.

Walaupun ia kenal Milnawati sejak duduk dibangku SMA kelas dua, namun mereka menjalin kasih dimulai sejak bulan September 2014 lalu. “Saya pacaran sama dia (Milnawati) nanti dia kuliah, sekitar bulan sembilan lalu,” kenangnya.

Sementara saksi Milnawati yang kelihatan masih trauma, saat dicoba untuk dimintai konfirmasi sejumlah wartawan enggan berkata sepata kata pun. Salah seorang penghuni kos Lizpa Dewi bernama Asep mengaku, tidak mendengar teriakan pada malam kejadian. “Kita tidak dengar teriakan, kalau ada teriakan pasti kita dengar,” singkatnya. (cr2/b/lex)

To Top