Headline

Kerap Dimarahi Guru, Ferdian Minum Racun Serangga

KENDARI, BKK – Kerap dimarahi gurunya, Ferdian (17), seorang siswa kelas XI madrasah aliyah (MA) Mataiwoi Kecamatan Angata Kabupaten Konawe Selatan, mencoba bunuh diri dengan meminum racun serangga. Untungnya, nyawa Ferdian bisa selamat setelah pihak keluarga mengantarnya ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan intensif.

Selain sering dimarahi guru, aksi nekat Ferdian ini didasari oleh tekanan ekonomi karena dia tidak mampu membayar biaya lomba kebersihan.

Hal ini diungkapkan ibu Ferdian, Nurnani (41) saat ditemui di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bahteramas Kendari, Kamis (12/2). Nurnani mengaku, anaknya sering disuruh oleh gurunya membawa perlengkapan ruangan kelas.

Seperti, ayat kursi, palu-palu, gergaji, jam dinding.

“Semua yang disuruhkan di bawa di sekolah, tapi tetap saja dimarahi gurunya. Katanya, kau itu Ferdin gak usah mi sekolah. Mungkin itu mi yang dia frustasikan,” terang Nurnani menirukan pernyataan guru Ferdian.

Puncak emosi Ferdian, datang pada saat sekolahnya mewajibkan kepada seluruh siswa untuk membayar iuran lomba kebersihan di sekolah sebesar Rp 10.000. Karena ibunya pada saat itu tak punya uang, akhirnya permintaan Ferdian tidak disahuti.

Gelap mata dan putus asa, akhirnya Ferdian berani meminta racun serangga ke rumah tetangga dan menenggaknya seketika pada Senin (9/2) pukul 09.00 Wita.

“Saya bilang, tidak ada uang (untuk membayar iuran lomba kebersihan Rp 10.000). Nanti besok saja. Saat itu, saya juga tidak marahi. Tapi gurunya yang sering marahi,” bebernya.

Nurnani mengakui, anaknya sering terlambat masuk sekolah lantaran jarak rumah ke sekolah cukup jauh. Sehingga, Ferdian kerap mendapat teguran dari gurunya.

“Mulai SMP memang jauh jarak yang ditempuhnya untuk ke sekolah sehingga kalau sakit dia biasanya tidak ke sekolah dan mengirimkan surat sakit,” akunya.

Ditambahkannya, Ferdian pernah terdaftar sebagai salah satu siswa penerima beasiswa dari sekolahnya. Akan tetapi, beasiswa sebesar Rp 500.000 itu langsung habis hanya untuk membayar iuran dan kebutuhan sekolahnya.

“Setiap sudah terima beasiswa, selalu banyak pembayaran di sekolah. Ada pembayaran osis, baju olahraga dan lain-lainnya. Makanya, langsung habis terpakai,” bebernya.

Ferdian yang sedang terkulai lemas di bangsal rumah sakit menyebut, oknum guru yang sering memarahinya bernama Ahmad.

“Ahmad yang sering marahi saya,” tuturnya.

Ditempat terpisah, Sabtu (14/2) Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Sulawesi Tenggara (Sultra) Samsuri mengungkapkan, pihaknya sudah mengkonfirmasi kepada sekolah yang bersangkutan pada Rabu dan Kamis pekan lalu.

Keterangan yang diperoleh dari kepala sekolah dan gurunya, kejadiannya pada saat Senin (9/2). Pada saat itu, Ferdian terlambat datang di sekolah sementara seluruh siswa dan guru sedang melaksanakan upacara bendera.

“Karena bendera sedang dinaikan, maka Ferdian dilarang oleh salah satu guru bernama Ahmad untuk masuk. Dia boleh masuk setelah upacara selesai. Dan aturannya memang sudah begitu,” alas Samsuri.

Namun, urai Samsuri, setelah dipersilahkan masuk halaman sekolah, Ferdian malah memilih tidak masuk sekolah dan pergi ke kantin.

“Tidak tahunya, anak itu langsung keluar dari ruangan,” kata Samsuri menirukan penjelasan guru Ferdian.

Dari pengakuan gurunya, aku Samsuri, Ferdian memiliki catatan khusus di sekolah. Terkadang, sebut dia, Ferdian hanya satu kali satu minggu masuk sekolah tanpa keterangan yang jelas.

“Anaknya juga malas belajar katanya gurunya dan selalu terlambat. Memang, rumahnya berjarak tiga kilometer dari sekolah,” ujarnya.

Masih kata Samsuri, Ferdian diketahui meminum racun setelah beberapa siswa dan guru melihatnya terbaring tepat di depan kantor sekolah dengan mulut berbusa.

“Semua guru yang melihat itu, langsung mengatarkannya ke puskesmas di Angata. Tapi, di sana tidak bisa dirawat dan akhirnya dirujuk ke RSUD Bahteramas pada hari itu juga,” bebernya.

Dalam perjalanan ke RSUD Bahteramas, tambah Samsuri, guru bernama Ahmad sempat menanyakan masalah anaknya sehingga jarang masuk sekolah dan menenggak racun serangga.

“Menurut guru itu, Ferdian sempat bertengkar dengan mamanya karena mengambil uang tidak bilang-bilang sebesar Rp 20.000. Dan itu yang disampaikan ke saya waktu dikonfirmasi,” ujarnya.

Kepala Sekolah dan pihak guru, ujar Samsuri, membantah tudingan orang tua Ferdian yang menyebut pihak pendidik telah meminta pungutan sejumlah uang kepada siswa.

“Ini masalahnya sebenarnya, masalah keluarga yang terbawa hingga ke sekolah,” alasnya.

Terkait pembiayaan sekolah, menurut Samsuri, madrasah swasta memang membiayai dirinya sendiri. Pemerintah hanya membantu biaya operasional berupa bantuan operasional sekolah (BOS) yang dibayarkan per semester.

“Itu terkadang full dan kadang juga tidak, tapi pasti selalu ada dalam setahun. Adapun pembayaran-pembayaran tambahan seperti OSIS atau iuran bagi siswa itu harus atas persetujuan komite,” katanya. (cr1)

To Top