Aneka

“Bongkar Kota Lama, Kualat”

KENDARI, BKK – Koordinator Komunitas Masyarakat Kota Lama, Jefry Tanjung menyebut pihak yang berani merobohkan bangunan tua di Kota Lama bakal kualat pada sejarah.

Menurut dia, bangunan tua di Kota Lama merupakan saksi sejarah berdirinya Kota Kendari yang dulu dikenal dengan Kerajaan Laiwoi.

“Kalau bongkar kota lama, saya yakin mereka akan kualat,” terang Jefry Tanjung saat ditemui di kediamannya, Senin (9/2).

Jefry menambahkan, sebagian besar pemilik rumah toko (ruko) tua yang berjejer di Kota Lama menolak untuk digusur hanya karena proyek Jembatan Bahteramas. Menurut dia, yang lebih bermanfaat dan perlu dilestarikan adalah bangunan tua yang bernilai sejarah.

“Bukan jembatan itu. Kita tidak menolak program pemerintah. Tapi, harus ada pertimbangan manfaatnya. Sekarang, apa manfaatnya jembatan itu kalau hanya menghubungkan dua kelurahan dan menghancurkan situs sejarah,” katanya.
Ia juga menyinggung rencana Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra) Nur Alam terlalu banyak yang mubazir. Harusnya, saran Jefry, orang nomor satu di Sultra itu lebih memprioritaskan program lain dari pada menghancurkan saksi berdirinya Kota Kendari.

“Belum tuntas pembangunan Masjid Al Alam di tengah Teluk Kendari, ada lagi program jembatan ini. Tuntaskan dulu satu-satu. Banyak anggaran daerah yang dikeluarkan hanya untuk hal yang mubazir,” sorotnya.

Sebagai bentuk penolakan, pihaknya memampang baliho sebesar 1 kali 3 meter di depan rukonya. Hanya saja, aku dia, beberapa kali Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) meminta atribut itu dicopot.

“Mereka pernah copot satu kali. Pagi ini lagi mereka datangi lagi untuk membukanya. Tapi, saya larang. Kalau mereka copot, saya akan perkarakan. Masa kita menolak begitu, sebagai bentuk provokator. Yang jelasnya, kami menolak bangunan yang kami tinggali dibongkar,” tuturnya.

Di tempat terpisah, Kepala Biro Pemerintahan Pemprov Sultra Muhammad Zayat Kaimoedin tidak mempersoalkan aksi penolakan masyarakat. Hanya saja, aku dia, seluruh bangunan yang ada di Kota Lama akan dikosongkan.

“Ini bukan pembongkaran sebenarnya. Hanya pengosongan. Kalau menolak, itu wajar saja. Karena, dalam pembangunan ada pro dan kontra. Tapi, kita tetap berjalan pada keputusan pemerintah untuk mengosongkan lokasi tersebut,” ujarnya.

Hingga saat ini, tambah dia, dari 80 ruko sudah 40 ruko yang diganti rugi dan sebagian sudah berhasil diratakan dengan satu alat berat. Sisanya, sebut dia, anggaran ganti ruginya akan menyusul dan dilanjutkan dengan pembongkaran.

“Biar menolak dibongkar, tetap dikosongkan. Nanti, mereka akan mendapatkan ganti rugi,” ujarnya.
Meski begitu, Zayat enggan menyebutkan total anggaran yang dikeluarkan untuk mengganti rugi lahan warga di Kota Lama.

“Kalau jumlah dananya jangan disebutkan. Yang jelasnya, harganya di bawah nilai jual obyek pajak (NJOP) Kota Kendari. Semua akan diberikan haknya sebelum di bongkar. Makanya, kami minta warga segera mengosongkan lokasi itu,” imbaunya. (cr1/c/lex)

To Top