Aneka

Booming, Pemerintah Lirik Batu Akik Jadi Komoditas Ekspor

4649691_img-20131210-wa000       Jakarta- Pemerintah berencana untuk menambah berbagai komoditas baru yang memiliki potensi untuk diekspor. Seperti misalnya batu akik yang saat ini sedang populer di masyarakat.

      “Sepanjang itu diolah dari tambang yang legal, maka akan kita ekspor apalagi ada nilai tambahnya, karena akan meningkatkan devisa,” kata Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Partogi Pangaribuan, usai konferensi pers kinerja perdagangan Indonesia di kantor Kementerian Perdagangan (Kemendag), Jakarta, Selasa (3/2).

Menurut Partogi, batu akik akan menambah ragam produk perdagangan Indonesia ke luar negeri. Serta, akan mendorong program menteri perdagangan untuk meningkatkan ekspor hingga 300 persen.

“Sesuai dengan program Menteri Perdagangan Rachmat Gobel 300 persen ekspor, sekarang kita tengah menggali produk-produk apa saja yang bisa kita ekspor. Yang pasti bagaimana kita menambah ragam produk ekspor, jenis produk, negara tujuan ekspor, dan pelaku eksportirnya, serta berikan kemudahan terhadap produksi tujuan ekspor,” tukas Partogi.

Sebagai informasi, hari ini Kemendag merilis, kinerja perdagangan Indonesia mengalami peningkatan signifikan. Perdagangan nonmigas selama 2014 mencatat surplus sebesar USD11,2 miliar.

Kinerja tersebut mengalami peningkatan dibandingkan periode yang sama tahun 2013 yang tercatat USD8,5 miliar. Peningkatan surplus perdagangan tersebut ditopang oleh turunnya impor nonmigas sebesar 4,7 persen, lebih besar dibandingkan penurunan ekspor nonmigas sebesar 2,6 persen.

“Naiknya surplus neraca perdagangan nonmigas mampu menekan defisit neraca perdagangan migas sehingga memperbaiki defisit total neraca perdagangan di tahun lalu,” kata Menteri Perdagangan Rachmat Gobel dalam konferensi pers di kantornya, Selasa (3/2).

Kinerja ekspor nonmigas selama 2014 didominasi sektor industri dengan kontribusi mencapai 66,6 persen. Produk industri yang naik signifikan antara lain perhiasan atau permata (68,9 persen), bahan kimia organik (14,4 persen), kendaraan dan bagiannya (14,1 persen), dan alas kaki (6,4 persen).

Pada periode yang sama, sektor pertanian turut mengalami peningkatan sebesar 1 persen, dengan kenaikan terjadi pada produk buah-buahan (56,7 persen), produk hewani (9,8 persen), serta ikan dan udang (8,5 persen).

Sementara itu, sektor pertambangan turun signifikan sebesar 26,7 persen, diakibatkan penurunan ekspor pada produk bijih, kerak, dan abu logam (-70,7 persen), timah (-14,8 persen), dan alumunium (-4,2 persen).

“Melemahnya kinerja ekspor selama 2014 ternyata tidak hanya dialami oleh Indonesia, namun juga dialami beberapa negara lain seperti Jepang, Brasil, dan Argentina yang turun 3-9 persen,” cetus Rachmat.

Perdagangan nonmigas dengan India, Amerika Serikat, Filipina, Belanda, dan Uni Emirat Arab menyumbang surplus perdagangan nonmigas selama 2014 dengan kontribusi mencapai USD24,7 miliar. Sementara itu, untuk Tiongkok, Thailand, Jepang, Korea Selatan, dan Australia menyebabkan defisit terbesar yang jumlahnya mencapai USD21,6 miliar.

Impor sendiri turun 4,5 persen selama 2014, total impor mencapai USD178,2 miliar, menurun 4,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat USD186,6 miliar. Struktur impor sendiri masih didominasi bahan baku atau penolong (76,4 persen) meskipun nilainya mengalami penurunan sebesar 4,1 persen (YoY). Bahan baku atau penolong yang impornya turun signifikan antara lain gula turun 21 persen, besi dan baja turun 12,6 persen, serta perangkat optik turun 12 persen.

Sementara itu, pangsa impor barang modal mengalami penurunan menjadi 16,4 persen dan nilainya mengalami penurunan terbesar dibanding kelompok barang lainnya, yakni sebesar 7,1 persen (YoY). Barang modal yang impornya turun signifikan, antara lain mesin-mesin turun 5,3 persen, peralatan listrik turun 5,4 persen, serta kendaraan dan bagiannya turun 21,0 persen.

Sedangkan pangsa impor barang konsumsi sebesar 7,1 persen, dan nilainya mengalami penurunan sebesar 3,6 persen (YoY). Adapun barang konsumsi yang impornya turun signifikan antara lain kapal terbang dan bagiannya turun 62,1 persen, kendaraan bermotor turun 30,8 persen, dan makanan olahan turun 7 persen.

“Berdasarkan negara asal impor, sebagian besar impor dari negara mitra dagang utama mengalami penurunan antara lain dari Jepang, Amerika Serikat, dan Malaysia. Barang dari Jepang yang impornya turun antara lain kendaraan dan bagiannya, besi dan baja, serta kendaraan bermotor. Barang dari Malaysia yang impornya turun antara lain besi dan baja, makanan olahan, dan produk kimia. Barang dari AS yang impornya turun antara lain mesin-mesin, produk kimia, dan perangkat optik,” pungkas Rachmat. (met/iis)

To Top