Headline

Detik-detik Maut AirAsia QZ8501 Berdasarkan Data Black Box

Pesawat AirAsia QZ8501 diduga akibat menabrak awan cumolonimbus dengan puncak awan 44.000 kaki

Pesawat AirAsia QZ8501 diduga akibat menabrak awan cumolonimbus dengan puncak awan 44.000 kaki

Detik-detik kecelakaan maut pesawat AirAsia QZ8501 akhirnya diungkap Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Di kantornya di kawasan Jakarta Pusat, komite yang dipimpin Tatang Kurniadi itu membeberkan laporan awal atau preliminary report jatuhnya pesawat jenis airbus itu.

Data tersebut didapat dari rekaman Cockpit Voice Recorder (CVR) dan Flight Data Recorder (FDR) yang berhasil diunduh. Data faktual itu sedikit demi sedikit berhasil mengungkap kronologi jatuhnya pesawat.

Ketua Tim Investigasi AirAsia QZ8501 Mardjono Siswosuwarno di kantor KNKT, menjelaskan pada 28 Desember 2014 pukul 23.16 UTC atau 06.16 WIB Air Traffic Control (ATC) Jakarta mengijinkan pesawat terbang lebih tinggi. Dari yang sebelumnya berada di level 320 atau 32.000 kaki ke level 340. Keputusan itu diberikan setelah Kapten Irianto meminta pesawat naik ke level 380.

“Pada jam 23.16 (UTC), ATC mengijinkan pilot untuk ke naik ke flight level 340,” kata Mardjono di kantor KNKT, Kamis (29/1) seperti dilansir Indopos (JPNN Group).

Awalnya, ATC Jakarta masih mempertimbangkan permintaan pilot untuk naik level ketinggian. Sebab, ada gugusan awan cumolonimbus membentang di depan posisi pesawat saat itu. Namun setelah sempat memerintahkan Pilot untuk standby di level 320, akhirnya ATC mengijinkan pesawat naik.

“Pada saat kejadian tersedia gambar cuaca yang menunjukkan ada formasi awan CB (cumolonimbus) dengan puncak awan 44.000 kaki,” ujar Mardjono.

Investigator Senior Penerbangan Kapten Ertata Lananggalih menambahkan, posisi terakhir pesawat berada di atas batas rekomendasi ATC. Diperkirakan, pilot melakukan manuver untuk menghindari awan CB. Ketinggian pesawat terakhir diperkirakan pada 37.400 kaki.

Lebih rinci, Ertata menyebut bahwa untuk naik ke ketinggian maksimalnya, QZ8501 membutuhkan waktu 30 detik. Nah, 30 detik selanjutnya moda udara itu turun ke ketinggian 32.000 kaki. Kejadian itu tepat pada pukul 23.20 atau 06.20 WIB, waktu dimana pesawat kehilangan kontak. Bersamaan dengan habisnya rekaman di blackbox.
Data dari Black Box juga menunjukkan bahwa pesawat AirAsia QZ8501 jurusan Surabaya-Singapura tak diterbangkan Polit Irianto sempat membuat publik tercengang. Berdasarkan data yang dilansir KNKT berdasarkan data Cockpit Voice Recorder (CVR) dan Flight Data Recorder (FDR) menunjukkan bahwa sejak pesawat lepas landas dari Bandara Juanda di Sidoarjo sampai terjatuh dikendalikan oleh co pilot Remi Immanuel Plesel.

Lantas apa peran Kapten Irianto saat pesawat itu bertolak pada 28 Desember 2014 silam? Menurut Ketua Tim Investigasi AirAsia QZ8501 Mardjono Siswosuwarno, saat itu, Irianto melakukan pengawasan terhadap co pilot yang menerbangkan pesawat.

“Melalui rekaman CVR, kapten melakukan komunikasi dengan ATC,” kata Mardjono.

Meski begitu, Mardjono mengatakan bahwa tidak dilarang seorang co pilot membantu menerbangkan pesawat. Kata dia, tidak ada aturan yang mengharamkan co pilot untuk membantu Pilot menerbangkan pesawat. Karena itu, tidak ada yang aneh dengan kondisi tersebut. “Tidak kenapa-kenapa karena itu dibolehkan undang-undang,” kata dia. (adn/indopos/mas)

To Top