Puluhan Kilo Apel Berbakteri Ditemukan di Pasar Buah Kendari – Berita Kota Kendari
Beranda

Puluhan Kilo Apel Berbakteri Ditemukan di Pasar Buah Kendari

Apel      BKK – Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Sulawesi Tenggara (Sultra) berhasil menemukan puluhan kilogram apel berbahaya Amerika Serikat di Pasar Buah Kendari.

     Tim Jejaring Terpadu Keamanan Pangan Daerah Sultra yang terdiri dari Badan Ketahanan Pangan, BPOM, Balai Karantina, Dinas Pertanian, Dinas Perkebunan dan Holtikultura, dan Dinas Perdagangan, menemukan buah apel jenis gala royal dan greeny smith. Meski telah dilarang peredarannya, buah apel asal Amerika Serikat itu, sudah ludes terjual di Pasar Buah.

Tim yang melakukan razia, hanya mendapatkan sisa buah hasil penjualan. Apel jenis gala royal dan greeny smith merupakan buah yang mengandung bakteri listeria monocytogenes. Sehingga, seluruh penjual dan pemerintah daerah diminta untuk melakukan operasi pasar menertibkan buah impor yang sangat berbaya bagi kesehatan itu.

“Hari ini, kami menemukan banyak buah jenis gala dan greenny smith. Buah apel ini sangat berbahaya bagi kesehatan tubuh,” terang Kepala BPOM Sultra Adilah Pababbari di sela operasi buah apel di Pasar Buah Kendari, Kamis (29/1). Menurut dia, bahaya terhadap kesehatan setelah mengonsumsi apel jenis gala dan greeny ini sangat besar. Sebab, alas dia, bahayanya bisa merusak hati, menimbulkan gejala demam, mual dan muntah-muntah.

“Pas kena orang hamil juga bisa menggugurkan,” katanya. Masuknya buah apel berbahaya di Sultra, diduga melalui pelabuhan ilegal. Sebab, sebelum diedarkan di pasaran, buah tersebut harusnya melalui pemeriksaan Balai Karantina Pelabuhan.

“Ini pasti melalui pelabuhan ilegal. Lagian, yang kita temukan saat ini adalah stok lama. Dan sebelum kejadian di Amerika itu, sudah ada barang ini,” duga Kepala Badan Ketahanan Pangan Sultra Hermin Parinding. Meski begitu, tim tidak mengamankan buah yang diduga mengandung virus tersebut.

Mereka hanya mengambil sampel untuk dilakukan penelitian apakah mengandung bakteri atau tidak. Selama masa penelitian itu, pedagang buah diminta untuk tidak menjual buah apel jenis itu.

“Nanti, setelah ada hasil di laboratium baru kita amankan. Itu pun kalau ada bakterinya. Kalau tidak, maka tidak masalah untuk dijual,” katanya.

Rencana penarikan buah asal negeri Paman Sam itu ditentang oleh salah satu pedagang. Nadia (54) salah penjual buah mengaku, kalau pemerintah mengambil jualannya harus bertanggung jawab atas kerugian yang dia miliki. “Jangan ambil jualan saya. Kalau diambil, saya tuntut dikasi kembali,” tolak Nadia Menurut Nadia, selama ini dirinya tidak tahu menahu tentang apel luar negeri yang masuk. Ia hanya mengetahui, kalau apel yang dibelinya di distributor Toko Makmur Mandonga itu tidak berbahaya. “Mana saya tahu kalau apel ini berbahaya. Saya tidak mau barangku diambil. Capeku saya cari,” tambahnya.

Menurut Nadia, dirinya sudah delapan tahun menjual buah impor tersebut. Ia mengaku, buah yang dijualnya beracun barusan diketahuinya setalah adanya operasi tersebut.

“Kami belum dapat pemberitahuan dari pemerintah,” terangnya. Nadia menambahkan, dirinya mendapatkan buah jenis Gala dan Grenny smith ini di Toko Makmur yang barangnya disuplai langsung dari Makassar Sulawesi Selatan. Setiap dosnya, sebut Nadia, harganya beragam. “Ada yang satu dos seharga Rp 500.000. Ada juga di bawah itu. Pokoknya tidak merata harganya,” sebutnya.

Di tempat terpisah, Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sultra Nursalam Lada meminta kepada pemerintah terkait untuk melakukan razia terhadap buah berbahaya ini. Sebab, banyak masyarakat yang mengkonsumsinya.

“Kami sangat sepakat barang itu dirazia. Saya juga ikut mengkonsumsi itu. Jangan sampai ini bisa berdampak buruk bagi kesehatan kita,” terangnya. Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ini menambahkan, pemerintah juga harus mengawasi ketat masuknya buah impor ke Sultra. Ia menduga, barang berbahaya tersebut leluasa masuk di Sultra karena luput dari pantauan.

“Harusnya, sebelum beredar buah tersebut diperiksa dulu oleh Balai Karantina. Kalau bermasalah, jangan dijual. Ini berbahaya bagi kita masyarakat,” pesannya. Keberadaan buah berbakteri ikut memprihatinkan masyarakat.

Arwin, salah satu warga Kadia mengaku, dirinya selalu membeli buah apel di Pasar Buah. Setelah memperoleh informasi dari berbagai media, ternyata buah tersebut haram untuk dimakan. “Karena mengandung bakteri. Kita khawatir, jangan sampai kita bisa sakit-sakitan. Makanya, kami dukung pemerintah lakukan operasi seperti ini,” katanya saat ditemui di lokasi pasar buah. (cr1/b/lex)

To Top