Pergi Melaut Pakai Sarung, Digulung Roda Gila, Leher Putus – Berita Kota Kendari
Headline

Pergi Melaut Pakai Sarung, Digulung Roda Gila, Leher Putus

KENDARI, BKK– Seorang anak nelayan Lapulu tewas digilas roda gila mesin perahu, Kamis (15/1), saat sedang melaut di perairan Pulau Saponda. Roda gila itu memutus lehernya hingga terpisah dari badan.

ANAK TEWAS

Foto: Kasman/BKK | Anak nelayan Lapulu, bocah 13 tahun yang ikut pamannya mencari ikan di Pulau Hari dan Sapond

Kisah tragis ini dialami pasangan suami istri H Peru dan Hj Pia warga Kompleks Transmigrasi Kelurahan Lapulu Kecamatan Abeli Kota Kendari. Menimpa anak lelaki semata wayang mereka, Ikbal (13).

Ikbal pulang dalam keadaan telah menjadi mayat. Selain menimbulkan isak tangis dari kedua orangtua korban, tangisan kesedihan dari kerabat dan tetangga yang datang menjenguk turut mewarnai suasana ketika leher korban dijahit para petugas medis.

Rumah duka juga kelihatan ramai, disambangi para tetangga, dan kerabat yang melihat kondisi terakhir Ikbal. Informasi yang dihimpun wartawan Berita Kota Kendari (BKK), peristiwa itu terjadi di Perairan Saponda Kelurahan Soropia Kabupaten Konawe, Kamis (15/1) sekitar pukul 09.00 Wita.

Ikbal bersama pamannya Sudirman (21) dan Spupunya Ari alias Wawan (18) pergi menangkap ikan, menggunakan pukat. Mereka memakai perahu bermesin TS.

Sudirman menuturkan, dirinya berada di bagian depan perahu, Ari berada di bagian belakang perahu atau dekat mesin sedang baring-baring. Sementara, Ikbal duduk di atas pukat yang diletakkan di bagian tengah perahu.

Saat hendak beranjak pulang, mesin pun kembali dihidupkan. Tidak lama kemudian, sambung Sudirman, ia melihat kemakannya itu berdiri menuju ke arah Ari yang berda di dekat mesin. Tiba-tiba sarung yang digunakan Ikbal sudah terlilit roda gila mesin perahu. Anak pertama dari tiga bersaudara itu segera tertarik oleh roda gila.

“Saya lihat Ikbal dalam posisi tersangkut. Saya langsung lompat mendekati Ikbal dan berusaha mematikan mesin. Saat mesin mati, saya melihat kepala dan badan Ikbal sudah terpisah, dan kepala itu jatuh di lantai perahu,” tuturnya, dengan nada sedih.

Melihat kondisi itu, Rusdin pun langsung menginformasikan kepada orangtua Ikbal yang selanjutnya mengutus tiga buah perahu untuk menjemput ketiganya. Nanti siang, sekitar pukul 13.00 Wita, Ikbal tiba di rumah duka.

Rusdin (49), paman Ikbal membeberkan, ketiganya meninggalkan rumah sejak Rabu (14/1) sore hari sekitar pukul 15.00 Wita, untuk pergi menangkap ikan dengan pukat di perairan Pulau Hari dan perairan Saponda.

“Ketiganya bermalam di laut. Karena harus bermalam, sehingga masing-masing membawa sarung untuk mengantisipasi kedinginan,” tuturnya.

Menurut Rusdin, meninggalnya anak lelaki semata wayan dari tiga bersaudara itu akibat dari orangtua yang terlalu memanjakannya. Sehingga, sang Anak berbuat apapun selalu dituruti maunya. Bahkan, kata dia, saat sang Anak hendak memutuskan berhenti sekolah pun, kedua orangtuanya tetap menuruti.

“Anak ini (Ikbal, red) dikasih manja orangtuanya, terlalu diikutkan maunya. Bayangkan sudah mendaftar sekolah menengah pertama (SMP), tapi tiba-tiba dia memutuskan tidak mau sekolah. Orangtuanya juga tidak mau paksa,” katanya.

Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Kesatuan Pelaksanaan Pengamanan Pelabuhan (KP3) Kendari Inspektur Polisi Satu (Iptu) La Ode Djafir Oda mengatakan, kedua orangtuanya tidak keberatan dengan insiden itu, karena yang membawa anaknya merupakan keluarganya sendiri.

“Tidak ada penyelidikan dari kepolisian, karena orangtuanya tidak keberatan. Dan kita suruh bawa di Rumah Sakit pun mereka tidak mau,” jelasnya. (cr2/a/iis)

To Top