Pendidikan

Sekolah Siap, Siswa Pasrah

*Pro-Kontra UN Sistem CAT

KENDARI, BKK – Pelaksanaan ujian nasional tidak lama lagi, dijadwalkan pekan ketiga bulan April 2015. Berbagai persiapan telah dilakukan oleh pihak sekolah. Kabarnya, UN tahun ini sudah menggunakan sistem Computer Assisted Test (CAT).

Kepala Bidang Pendidikan Menengah (Dikmen) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kota Kendari, Muhidin mengaku belum dapat memastikan sistem UN tahun ini. Sebab Kementerian Kebudayaan, Pendidikan Dasar, dan Menengah juga belum memutuskan akan menerapkan sistem CAT atau masih menggunakan Lembar Jawaban Komputer (LJK).

“Kalau untuk sistemnya kita belum bisa pastikan, kita masih tunggu instruksi dari Kementerian,” tegas Muhidin, di ruang kerjanya, Senin (5/1).

Tahun ini, bidang studi yang masuk dalam UN tingkat SMA adalah Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, Ekonomi, Geografi, Bahasa Inggris, dan Bahasa Indonesia. Untuk SMP yaitu Matematika, IPA, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris. Sementara SD hanya IPA, IPS, Bahasa Indonesia, dan Matematika.

Salah satu sekolah yang sudah siap menghadapi UN tahun ini, SMAN 5 Kendari. Bahkan sejak jauh hari sudah dipersiapkan.

Kepala SMAN 5 Kendari, Ishak Pawai mengaku telah mempersiapkan UN sejak September 2014. Pihak sekolah maupun orang tua siswa sudah membahasnya dalam rapat komite kala itu.

Menurutnya, siswa SMAN 5 Kendari akan mengadakan try out pada Februari mendatang. Untuk bisa melewati ujian itu, para siswa mendapatkan kelas tambahan belajar tiap hari, yakni pada sore hari setelah jam reguler.

Mengenai UN sistem CAT, Ishak mengatakan, pihaknya tidak akan terkendala. Sebab siswanya telah diajarkan penggunaan IT dan persiapan lainnya dalam sistem CAT.

“Tidak ada kendala kalau pakai sistem CAT, meskipun komputer kami baru 20 unit tapi kalau itu harus ditambah, ya kita tambah,” katanya, Senin (5/1).

Sementara itu, salah seorang siswi SMKN 4 Kendari, Nurul Hikmah mengaku sudah siap menjalani UN nanti. Dia menambah jam belajarnya tiap hari, demi lulus UN. Mengenai UN dengan sistem CAT, dia sebenarnya tidak setuju. Namun jika pada akhirnya pihak sekolah memastikan menggunakan sistem itu, dia pasrah saja.

“Tapi karena itu sudah kebijkan ya kita ikut saja. Repot soalnya kalau ujian pakai sistem CAT, karena harus ditambah lagi komputer, terus belum lagi dengan yang sekolah di pelosok tidak ada jaringannya, bagaimanami itu,” ucapnya. (p11/b/jie)

To Top