Protes Rektor, Mahasiswa UHO Dirikan Tenda di ORI – Berita Kota Kendari
Headline

Protes Rektor, Mahasiswa UHO Dirikan Tenda di ORI

KENDARI, BKK – Puluhan mahasiswa Perikan Universitas Halu Oleo (UHO) mendirikan tenda di Ombudsman Republik Indonesia (ORI) Perwakilan Sulawesi Tenggara (Sultra) sebagai bentuk protes terhadap Rektor UHO Usman Rianse.

Aksi protes ini, untuk kesekian kalinya dilakukan. Koordinator lapangan Edi Asis mengaku, aksi ini dilakukan untuk meminta dukungan kepada ORI untuk memperjuangkan aspirasi mereka menolak dipindahkan dari Fakultas Perikanan ke fakultas yang akan didirikan birokrasi UHO.

“Kami tetap menolak pemindahan itu, karena sepengetahuan kami, pada saat mendaftar kita kuliah di perikanan bukan di Fakultas Teknologi dan Industri Pangan (FTIP),” terangnya di gedung ORI Sultra.

Menurut dia, aspirasi mereka telah disampaikan di ORI. Sebelumnya, tambah Edi, mahasiswa pernah diundang oleh rektorat untuk melakukan dialog, tapi mahasiswa tidak hadir dengan alasan kita dipaksa masuk dalam fakultas baru tersebut.

“Untuk apa kita ikut dialog kalau hanya dibujuk-bujuk,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua ORI Perwakilan Sultra Aksah mengaku, sudah menerima aduan dari mahasiswa perikanan dan telah mengirimkan surat panggilan kepada rektor beserta birokrasinya untuk mengklarifikasi masalah ini. Bahkan, Aksah berencana gandeng kepolisian jika pihak rektorat tidak mengindahkan surat yang disampaikan.

“Yang pasti kita tetap lakukan klarifikasi, apa pun caranya. Kalau permintaan tertulis tidak dijawab, kalau tiak hadir panggilan pertama kedua dan ketiga, maka kita akan minta bantuan kepolisian. Dalam aturan kami ada pemanggilan seperti itu,” tegas Aksah.

Seluruh yang dilaporkan di ORI, urai Aksah adalah rektor. Hanya saja, lanjut dia, bisa saja ada pejabat lain yang terlibat.

“Kami sudah surati tadi pagi. Sebenarnya dari hari Jumat kita buat surat, tapi sudah sore. Makanya baru dikirim hari ini,” tuturnya.

Diberitakan, rektorat menganggap kebijakannya tidak masalah. Dekan FTIP Prof La Karimuna mengaku, titel yang diberikan kepada mahasiswa perikanan tetap sarjana perikanan meski pun berada di FTIP notebene gabungan antara mahasiswa perikanan dan sebagian fakultas pertanian.

Sehingga, lanjut Karimuna, dalam satu fakultas bisa saja terdapat dua titel sama halnya dengan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

“Tidak ada masalah. Tidak ada persoalan titel yang perlu diperdebatkan,” terang Karimuna beberapa waktu lalu. (cr1/c/lex)

Click to comment
To Top