Dagang Petasan, Dilema antara Menekan Inflasi dan Ditekan Polisi – Berita Kota Kendari
Beranda

Dagang Petasan, Dilema antara Menekan Inflasi dan Ditekan Polisi

KENDARI, BKK– Meskpiun secara resmi dilarang oleh pihak kepolisian, pedagang petasan dan kembang api mulai marak di Kota Kendari. Hampir di setiap jalan protokol dapat ditemui pedagang musiman menggelar lapak. Gembira mendulang rupiah sekali setahun, walau resikonya kena tangkap.

Maraknya pedagang musiman ini karena Tahun Baru merupakan momentum yang membawa berkah bagi pedagang kembang api, terompet, hingga pernak-pernik tahun baru lainnya.

Wana (37) salah seorang pedagang di bilangan Ahmad Yani Kendari mengemukakan, ia bisa meraup untung Rp 1-3 juta dari penjualan kembang api dan terompet.

“Kalau sekarang, belum terlalu banyak yang datang beli. Biasanya, satu hari atau pas malam tahun baru, itu baru ramai. Tahun lalu, ada sekitar Rp 1 juta sampai Rp 3 juta. Mudah-mudahan tahun ini banyak lagi,” kata Wana, Kamis (25/12).

Hal senada diungkapkan Roni (29), pedagang terompet yang menjaja dagangannya di bilangan Jalan Sam Ratulangi Kendari. Ia mampu mencetak Rp 1-2 Juta setiap musimnya.

Ekonom Universitas Halu Oleo Syamsul Anam SE ME Dev mengemukakan, menjamurnya pedagang musiman seperti kembang api merupakan sesuatu yang lumrah dan tak bisa dipungkiri. Pasalnya, momentum Tahun Baru menjanjikan segunduk keuntungan bagi pedagang.

“Tahun Baru, termasuk Natal, adalah berkah bagi pedagang-pedagang kecil khususnya pedagang musiman. Secara mikro, ini pasti berpengaruh terhadap kesejahteraan,” katanya.

Koordinator Jaringan Peneleiti Ekonomi Kawasan Indonesia Timur Rahman Farisi mengatakan, geliat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kendari dipastikan akan semakin tumbuh memasuki pesta perayaan Tahun Baru 2015

Menurut Rahman, tingginya kebutuhan konsumsi masyarakat memasuki perayaan natal dan tahun baru akan membawa keuntungan tersendiri bagi pelaku UMKM. Karena itu, momentum tahun baru merupakan lahan basah bagi pelaku usaha.

“Sudah menjadi tren, momentum Tahun Baru akan berdampak positif bagi UMKM di semua daerah, termasuk di Kendari. Omzet meningkat karena kebutuhan masyarakat sangat tinggi saat Tahun Baru atau Natal,” kata Rahman.

Deputi Bank Indonesia (BI) Sulawesi Tenggara  (Sultra) LM Bahtiar Zaadi mengatakan, tingginya konsumsi masyarakat pada momentum Tahun Baru yang berujung pada maraknya peredaran kartal dan fluktuasi harga, akan memicu tingginya laju inflasi. Karena itu, perlu ada upaya oleh komponen terkait untuk meredam laju inflasi.

“Tren tahunan yang terjadi di setiap akhir tahun pasti inflasi tinggi. Kami prediksi inflasi tahun 2014 berada pada persentase 6 persen, plus minus begitu lah,” kata Bahtiar Zaadi. (m2/c/iis)

Click to comment
To Top