Benteng Tiworo, Bukti Kejayaan Kerajaan yang Telah Mengalami Pemugaran – Berita Kota Kendari
Feature

Benteng Tiworo, Bukti Kejayaan Kerajaan yang Telah Mengalami Pemugaran

Saat masih bersistem kerajaan, Pulau Muna terbagi atas dua wilayah pemerintahan besar, Wuna (Muna) dan Tiworo yang menguasai daerah pesisir. Rekam jejak dan keberadaan Kerajaan Tiworo masih dapat disaksikan sampai saat ini. Salah satunya adalah benteng Tiworo yang terletak di tepi sungai Kambara.

Awaluddin Usa, Muna Barat

benteng kerajaan tiworo

Material Benteng Tiworo yang berubah pasca pemugaran yang dilakukan pemerintah

Batu-batu kecil dan besar tersusun rapi,  berdiri kokoh di pusat Kota Kecamatan Tiworo Kepulauan.   Tingginya bervariasi antara tiga sampai empat meter mengelilingi kawasan seluas kurang lebih dua hektar. Lokasi tersebut menjadi pusat pemerintahan kerajaan Tiworo. Hingga kini lokasi benteng Tiworopun masih disakralkan, meski bentuk aslinya telah mengalami perubahan. Ditengah-tengahnya berdiri masjid bernama Sangia Barakati. Para calon kepala daerah yang bertarung di Pilkada Muna lalu datang mencari restu di benteng tersebut.

Begitu halnya Pj Bupati Muna Barat, LM Rajiun Tumada, saat pertamakali memasuki wilayah Muna Barat pasca dilantik, langsung diarak ke benteng tersebut untuk menggelar upacara ritual adat.  Saat hari-hari besar umat Islam seperti Idul Fitri, Benteng Tiworo juga menjadi lokasi salat. Seluruh masyarakat Tiworo Raya dari berbagai penjuru melakukan salat di dalam benteng tersebut. “Benteng yang ada saat ini sudah direnovasi. Dulu batu-batunya berukuran besar, masih ada bentuk aslinya yang berada di sisi timur benteng tersebut. Batu-batu kecil yang tersusun saat ini merupakan proyek rehabilitasi pemerintah,” kata Abdul Kadir, tokoh masyarakat Tiworo Kepulauan.

Ia menyesalkan pemerintah yang mengerjakan pemugaran, tidak mencontoh pola lama yang juga masih terlihat sampai saat ini. “Benteng aslinya terbuat dari batu besar dan ada trap-trap. Di trap tersebut bisa lewat satu unit bus,” ceritanya. Cagar budaya tersebut rusak, karena dulu saat pembuatan proyek jalanan dan jembatan, batu-batunya justru diambil dari benteng tersebut. “Batunya digunakan untuk mencor tiang jembatan,” sambung pria yang menjabat sebagai Kepala Kesbang Pol Muna itu.

Selain sebagai instrumen pertahanan, Benteng Tiworo, memiliki fungsi sebagai kawasan tempat tinggal para bangsawan. “Para raja dan bangsawan dulu tinggal di dalam benteng,” sambung Abdul Kadir. Namun saat Camat Tiworo Kepulauan (dulu Kambara) dijabat  Hamid Lakoso, diperintahkan agar warga keturunan kerajaan yang berdiam di kawasan itu, dikeluarkan.

Alasannya kala itu, warga yang berdomisili dalam benteng adalah simbol feodalisme. Raja terakhir yang tinggal dalam benteng tersebut adalah La Ode Pelo. Bentuk bangunan masjidnya yang ada dalam benteng pun bukan peninggalan kerajaan. Sebab bangunan lama yang terbuat dari papan telah dibongkar dan kini dibangun dengan konstruksi beton.

“Kalau lokasi masjidnya tidak berubah. Ukurannya pun hampir sama. Saat kecil saya masih menyaksikan masjid papan  tersebut,” kata Abdul Kadir lagi.

mesjid sangia barakati dibenteng

Mesjid Sangia Barakati di dalam Benteng

Di era raja siapa benteng tersebut dibangun, ia mengaku tak banyak tahu. Namun dalam sejarah, ketika terjadi perang antara Portugis dan armada Kerajaan Bone di Selat Tiworo tahun 1512, benteng tersebut sudah ada. Bahkan dalam benteng tersebut, tepatnya di bawah pohon besar terdapat salah satu makam panglima kerajaan Gowa yang membantu armada kerajaan Bone bernama Karaeng Sigi. “Karaeng Sigi gugur saat bertempur dengan Portugis. Ia dimakamkan di dalam benteng Tiworo. Kuburannya masih ada sampai saat ini,”ceritanya.

Penuturan yang ia dengar dari para pendahulunya, benteng tersebut dibangun oleh Yaro La Impi, seorang bangsawan Tiworo yang menyebarkan agama Islam di Laimpi. Makanya, ia mendapat gelar Yaro La  Impi. Ceritanya, benteng Tiworo dibangun dengan mengambil batu yang jauh dari pusat kota, karena Kambara merupakan daerah yang sulit untuk mendapatkan batu. Batu-batu berukuran besar itu diangkut secara estafet dengan formasi orang-orang yang berdiri berjajar, mulai dari tempat batu berada sampai ke kawasan pembangunan  benteng. Selain itu, batu-batu tersebut juga diangkut dengan perahu melalui sungai (Kambara dan Lambiku). “Benteng tersebut dibangun dalam beberapa masa pemerintahan kerajaan,”timpalnya.

Siddo Thamrin, punya cerita menarik soal kerajaan Tiworo. Ia pemerkirakan, kerajaan Tiworo telah ada sejak tahun 627 M. Kerajaan ini menguasai Witeno Wuna bagian utara dan barat laut serta semua pulau termasuk seluruh perairan selat Tiworo. Juga pesisir selatan jazirah Sulawesi Tenggara dari timur ke barat menjadi wilayahnya. Mulai pada saat itu, dengan segala pasang surut kerajaan Tiworo tetap bertahan hidup. Kerajaan Tiworo oleh kerajaan Cina dikenal sebagai kerajaan Two Holo. Selat Tiworo kala itu menjadi pusat pelayaran yang ramai. Meski demikian, belum ada satupun data sejarah yang dapat menjelaskan tentang keadaan kerajaan Tiworo kuno ini. Namun nama Tiworo sampai hari ini masih tetap ada. Kerajaan Tiworo kemudian bangkit kembali, bersamaan dengan munculnya kerajaan Wuna dan Wolio (Buton) pada sekitar awal abad ke 14. Kambara adalah ibu kota kerajaan Tiworo.

Dari jejak-jejak peninggalan sejarah kerajaan Tiworo, yang hingga hari ini masih bisa disaksikan adalah benteng-benteng pertahanan. Mulai dari benteng kota Tiworo, benteng Waobu, Lasiapamu, Lapadaku, Lakauale dan benteng Kota di Lambiku. (*)

To Top