Polda Diminta Ungkap Dalang Pencabulan – Berita Kota Kendari
Kasuistika

Polda Diminta Ungkap Dalang Pencabulan

Kendari, KP – Dua bulan sudah kasus cabul yang diduga dilakukan anak SD dan satu anak SMP masing-masing, EN, DD, TR, AD, ZK dan FL terhadap bunga (4,5 tahun) bergulir di Polda Sultra. Sayangnya, hingga kini pihak penyidik di Unit PPA belum juga memberikan hasil siapa dalang dari kasus tersebut. Padahal berdasarkan hasil visum korban mengalami kerusakan pada alat vital akibat benda tumpul.

korban cabul

Saya heran Pak. Anak saya nyata-nyata mengalami kasus pencabulan. Tapi tidak jelas siapa pelakunya padahal laporan saya ada enam orang. Sejak 31 Oktober saya melaporkan kejadian ini. Bagian PPA bilang ada hasil visum dari RS Bhayangkara tapi belum ditandatangani dokter. Sementara saya bersama anak datang langsung ke Bhayangkara untuk visum dan saya tandatangan di situ. Logikanya bagaimana mungkin visum mau dibawah ke Polda kalau belum ditandatangani dokter dari RS Bhayangkara,” ujarnya ketika mendatangi Kendari Pos, Selasa (23/12).

Dewi mengatakan,  kejadian yang menimpa anaknya berlangsung di Kecamatan Laonti, Konsel. Itu terungkap setelah ia melihat adanya perubahan perilaku termasuk sering mengeluh sakit pada perut dan pangkal pahannya, juga sering demam dan bicara tak karuan ketika malam hari. Lalu ia meminta terhadap anak semata wayangnya untuk menceritakan peristiwa sebenarnya. Bunga bercerita, ia diajak para pelaku ke hutan dekat kuburan. Di sana ada tikar yang terbentang dan mereka melakukan pencabulan. Bukan hanya itu, bunga juga pernah dibawa ke kapal termasuk daerah sekitar sungai sambil tangannya ditarik-tarik degan gerakan tak senonoh dari para pelaku.

“Semua keterangan anaknya saya ada direkaman. Waktu saya melapor itu, anak saya mengalami infeksi dan sering keluar cairan kemerahan juga kekuningan dari alat vitalnya. Pelakunya itu salah satunya merupakan anak SMP. Herannya lagi dari keterangan PPA di Polda anak saya yang menjadi korban sama sekali tidak mendapat perhatian,”katanya.

Dewi mengungkapkan, dia sudah melakukan pemeriksaan kedua di RS Santana. Di situ dokter menyarankan untuk melaporkan ke pihak berwajib karena ada kerusakan pada selaput darah akibat benda tumpul. Ia mengaku kesal karena dalam penjelasan langsung dari Kasubdit IV Polda Sultra AKBP Harjoni Yamin, secara tegas mengatakan hasil visum ada namun belum ditanda tangani dokter.

“Saya masih ingat ketika membaca sekilas hasil visum RS Bhayangkara saat tanda tangan, sangat jelas hasilnya robek arah jarum jam satu, bengkak juga lecet secara keseluruhan karena ada benda tumpul yang dipaksakan masuk. Itu kan bukti kuat kalau anak saya di cabuli. Kemudian Pak Harjoni bilang kalau saya belum punya bukti kuat. Ada apa semua ini, saya memang orang lemah kalau memang seperti ini, saya akan datang langsung menemui Pak Kapolda juga ibu Kapolda, termasuk membawa anak saya ke Mabes Polri,” kesalnya.

Ia menambahkan, hingga saat ini sama sekali tidak mendapat solusi dari kasus yang menimpa anaknya. Termasuk bisa memberikan penguatan terbaik melalui pengakuan dari para pelaku. ” Saya ingin siapapun yang terlibat dengan kasus anak saya bisa diproses dan mereka akan mendapat balasan setimpal,” tandasnya.

Sementara itu Arni dari Aliansi Perempuan (Alpen) Bidang Kasus Kekerasan Terhadap Anak mengatakan, seluruh aduan dari korban telah diterima dan saat ini sedang mengumpulkan bukti termasuk hasil visum dari RS Bhayangkara. Kata dia, dalam kasus ini seharusnya Polda bisa tegas sehingga korban bisa puas dengan laporan yang didapatkan.

“Sampai saat ini korban bersama ibunya tidak puas dengan hasil pemeriksaan karena tidak ada penguatan. Kalau bicara kekeluargaan, tidak semua atau semuda itu mau diatur damai atau dibayar lalu kasusnya tuntas. Ini bukan persoalan uang tapi masa depan anak tersebut. Mestinya ada upaya memberikan penguatan terhadap korban termasuk sikap dari kepolisian untuk membuat jera para pelaku termasuk pengakuan dari seluruh pelaku atas kasus yang terjadi,” katanya, kemarin.

Sedangkan Kasubbid PID Polda Sultra Kompol Dolfi Kumase mengatakan, kasus tersebut tidak bisa ditetapkan tersangka karena masih di bawah umur. Untuk menuntaskan kasus tersebut, pihaknya akan bekerja sama dengan Dinsos untuk memberikan penguatan.

“Kasusnya masih dalam proses kami akan melakukan koordinasi dengan pihak Dinsos,” tandasnya, kemarin. (p1/imn)

To Top